Sabtu, 07 September 2019

Toxic Parent

Aku.

Anak pertama dari tiga bersaudara. Anak yang harus jadi pemimpin bagi adik adikku. Dan juga harus bisa jadi pemimpin bagi keluarga jika sang pemimpin utama sudah tiada.

Ya, orang yang sangat sangat aku cintai itu sudah tiada mendahului kami. Kini semenjak beliau tiada keluarga ku ini makin kacau. Aku, sangat sedih. Aku, merasa gagal. Aku, hancur.

Mama.

Orang yang paling aku benci di dunia ini.
Orang yang paling aku inginkan mati, kalau bisa mati ditanganku sendiri.
Orang yang takkan ku maafkan.
Orang yang membuatku jadi hancur.
Orang yang sebenarnya iblis.
Orang yang membuat keluarga ku hancur.
Orang yang menjadi biang masalah dikeluarga ku.
Setan berwujud manusia.
Aku sangat sangat membencinya.

Mereka bilang aku anak durhaka.
Ya, aku terima itu, tapi mereka tidak tahu bagaimana mama ku.

Murka ibu adalah murkanya Allah. Tapi jika ibu kita melakukan kesalahan yang diulang-ulang, apakah Allah tidak murka kepada ibu kita? Dan apabila kita mencegah kesalahan yang dilakukan ibu kita, apakah Allah murka kepada kita? Allah Maha Tahu. Kesalahan yang dilakukan berulang kali itu bukan kesalahan, tapi pilihan. Ya, mamaku sendiri yang memilihnya. Dan itu yang tidak bisa aku terima sampai kapanpun.

Aku pernah membaca jika perempuan akan menarik empat laki-laki ke dalam neraka. Yang pertama, ia akan menarik ayahnya. Kedua, ia akan menarik saudara laki-lakinya. Ketiga, ia akan menarik suaminya. Dan yang keempat ia akan menarik anak laki-lakinya.
Aku tidak ingin ditarik oleh mamaku ke neraka.

Mamaku adalah PANTEK.

Papa.

Orang yang sangat sangat aku cintai, bahkan aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri.
Orang yang baik hati.
Orang yang sangat mencintai istrinya.
Orang yang tulus.
Orang yang takkan pernah absen namanya kusebut didalam doaku.
Orang yang menurunkan gen humor didalam diriku.
Orang yang jika aku berinfaq dan bersedekah mengatasnamakan dia.
Aku sangat sangat mencintai papaku.

Papa, tolong tarik abang ke surga.
Papa, tunggu abang di surga.
Papa, abang cinta papa.
Papa, abang rindu papa.

Istirahat yang tenang pa.

Jumat, 06 September 2019

Kupu Kupu Cantik

Kenapa tulisan ini berjudul kupu kupu cantik? Ya karena tulisan ini berhubungan dengan hewan cantik yang punya sayap itu. Tapi bukan yang bisa terbang melainkan kupu kupu yang hinggap dipipi. Aneh memang kenapa kupu kupu bisa hinggap dipipi. Semua wanita tidak ingin kupu kupu ini hinggap dipipinya. Kenapa? Karena dengan adanya kupu kupu ini wanita disarankan tidak boleh mempunyai anak apalagi menikah.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau orang orang terbiasa menyebutnya dengan Lupus. Ya lupus inilah yang disebut dengan kupu kupu cantik. Penyakit ini biasanya ditandai dengan adanya ruam berbentuk kupu kupu dipipi para penderitanya. Lupus seringkali susah terdeteksi karena gejalanya yang hampir sama dengan penyakit lain tergantung organ apa yang diserang lupus itu sendiri. Yang membedakan yaitu adanya protein didalam urine, sering kekurangan darah (padahal tidak berkegiatan), dan sering lelah. Karena susah terdeteksi lupus sering juga disebut penyakit seribu wajah.

Awalnya aku biasa saja mendengar kata lupus. Penyakit autoimun yang tidak ada obatnya ini menyerang istriku. Aku masih biasa saja sampai istriku bercerita tentang lupus kepadaku. Menangis sekencang kencangnya didalam hati yang bisa kulakukan sambil berdoa kepada Allah SWT. Ya penyakit ini membuatku sedih sesedih sedihnya. Tapi sedikitpun tidak kulihatkan kesedihan itu didepan istriku. Karena aku mencintai istriku lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Aku percaya semua yang terjadi di alam semesta ini atas kehendak Allah SWT. Aku tidak percaya dengan kebetulan, keberuntungan, dan kesialan. Karena seperti itulah yang ada didalam Al-Qur'an.

Perjuangan aku dan istriku melawan lupus dikuatkan oleh Muhammad Adz-Zikran Alvonso. Ya Zikran adalah anak pertama kami (mungkin satu satunya anak kami). Bayi ganteng nan lucu ini dititipkan ke rahim istriku. Dia menjadi obat hidup kami. Allah SWT sangat sayang dan cinta kepada kami karena hampir semua dokter menyarankan untuk tidak mempunyai anak bagi penderita lupus. Kembali kata syukur terucap dari mulutku.

ALHAMDULILLAH
ALHAMDULILLAH
ALHAMDULILLAH

Kami adalah keluarga yang bahagia.

Zikran tumbuh dengan perkembangan yang sangat cepat.......9 bulan lepas asi.......to be continued.......