Aku.
Anak pertama dari tiga bersaudara. Anak yang harus jadi pemimpin bagi adik adikku. Dan juga harus bisa jadi pemimpin bagi keluarga jika sang pemimpin utama sudah tiada.
Ya, orang yang sangat sangat aku cintai itu sudah tiada mendahului kami. Kini semenjak beliau tiada keluarga ku ini makin kacau. Aku, sangat sedih. Aku, merasa gagal. Aku, hancur.
Mama.
Orang yang paling aku benci di dunia ini.
Orang yang paling aku inginkan mati, kalau bisa mati ditanganku sendiri.
Orang yang takkan ku maafkan.
Orang yang membuatku jadi hancur.
Orang yang sebenarnya iblis.
Orang yang membuat keluarga ku hancur.
Orang yang menjadi biang masalah dikeluarga ku.
Setan berwujud manusia.
Aku sangat sangat membencinya.
Mereka bilang aku anak durhaka.
Ya, aku terima itu, tapi mereka tidak tahu bagaimana mama ku.
Murka ibu adalah murkanya Allah. Tapi jika ibu kita melakukan kesalahan yang diulang-ulang, apakah Allah tidak murka kepada ibu kita? Dan apabila kita mencegah kesalahan yang dilakukan ibu kita, apakah Allah murka kepada kita? Allah Maha Tahu. Kesalahan yang dilakukan berulang kali itu bukan kesalahan, tapi pilihan. Ya, mamaku sendiri yang memilihnya. Dan itu yang tidak bisa aku terima sampai kapanpun.
Aku pernah membaca jika perempuan akan menarik empat laki-laki ke dalam neraka. Yang pertama, ia akan menarik ayahnya. Kedua, ia akan menarik saudara laki-lakinya. Ketiga, ia akan menarik suaminya. Dan yang keempat ia akan menarik anak laki-lakinya.
Aku tidak ingin ditarik oleh mamaku ke neraka.
Mamaku adalah PANTEK.
Papa.
Orang yang sangat sangat aku cintai, bahkan aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri.
Orang yang baik hati.
Orang yang sangat mencintai istrinya.
Orang yang tulus.
Orang yang takkan pernah absen namanya kusebut didalam doaku.
Orang yang menurunkan gen humor didalam diriku.
Orang yang jika aku berinfaq dan bersedekah mengatasnamakan dia.
Aku sangat sangat mencintai papaku.
Papa, tolong tarik abang ke surga.
Papa, tunggu abang di surga.
Papa, abang cinta papa.
Papa, abang rindu papa.
Istirahat yang tenang pa.